Bagi kita dia tak lebih dari seseorang Kini kecuali muara seluruh pendapat. (W. H. Auden, penyair)

Dia atheis. Dia ajari manusia sebuah cara untuk membongkar isi lorong-lorong terdalam benak manusia. Barangkali, karena itu dia menakutkan. Dia Yahudi. Nazi membakar semua buku-buku karyanya. Sebuah cetakan dari karya pahat Kruger, Musa Melempar Naskah Sepuluh Perintah Tuhan ke Tanah, tahun 1770 yang berdasarkan lukisan Rembrandt, tergantung di aula rumahnya di Maresfield Gardens, London.
Di rumah itu dia menekuni alkitab dan patung-patung Musa untuk menulis tentang asalusul agama Yahudi. Hasilnya sebuah buku bertajuk Musa dan Monotheisme yang diterbitkan setahun menjelang ia wafat.
Di situ dia mengajukan hipotesa yang mengejutkan. Nabi Musa, simpulnya, bukanlah seorang Yahudi tapi seorang aristokrat Mesir dan konsep radikalnya tentang “peristiwa nyata” dan “kembalinya penindasan” membuat marah kaum Yahudi dan Nasrani.
Kaum Yahudi menuduhnya anti-Yahudi. Kita tak tahu apakah tuduhan ini sungguhsunggu benar. Tapi, dia sendiri menilai buku itu “sejenis novel sejarah”. Penggaliannya akan asal-usul Yahudi boleh jadi karena pencarian jati dirinya. Namun, keyahudiannya berbeda.
Ketika kaum Yahudi meminta dia mendukung Zionis setelah kerusuhan Arab pecah pada 1929, dia menulis penolakan yang santun. “Akan tampak lebih bijak bagiku untuk membangun sebuah tanah air Yahudi di atas tanah yang secara historis kurang terbebani,” tulisnya.
Tapi, dia sadar dia melawan sebuah gairah akbar pendirian sebuah negara Israel yang, tentu saja, tak bisa dia lawan. “Tapi, aku tahu bahwa sudut pandang rasional semacam itu tak akan pernah mendapat antusiasme dari massa dan dukungan keuangan.” Pada akhirnya, dia menegaskan posisi politiknya. “Aku tak dapat bersimpati sama sekali terhadap semua kasalehan salah arah yang mengubah sekeping dinding Herod menjadi jimat keramat nasional, hingga menyakiti perasaan penduduk pribuminya.”
Itu sekeping potongan dari mozaik besar kehidupan Sigmund Freud. Tak mudah menyimpulkan macam apa sosok Freud itu. Boleh dibilang, dia sendiri, sepanjang hidupnya berjuang untuk memahami dirinya. Bahkan dia melakukan studi atas otobiografinya sendiri.
Sigmund Freud lahir di Frieberg, Moravia (sekarang Republik Chek) pada 1856. Ketika dia berusia empat tahun keluarganya pindah ke Wina, tempat Freud tumbuh dan menghabiskan sebagian masa hidupnya. Pada 1937 Nazi Jerman mencaplok Austria dan psikolog Yahudi itu terpaksa meninggalkan Kota Wina dan mengungsi ke Inggris, tempat dia wafat karena kanker pada 1939.
Beberapa bulan menjelang wafatnya. Cambang putihnya masih bertengger di dagu tuanya. Dengan sebuah kaca mata berantai dia membacakan sebuah naskah yang meringkas karya hidupnya untuk radio BBC Inggris. Rekaman dilakukan di rumahnya di Maresfield Gardens pada 7 Desember 1938.
Saya akan menuliskan pernyataannya itu secara lengkap di sini, membiarkan sang tokoh psikoanalisa itu meringkaskan kerjanya sendiri.
“Aku mulai aktivitas profesionalku sebagai seorang neurolog, ahli syaraf, mencoba meringankan pasien-pasien syarafku. Di bawah pengaruh sahabatku yang lebih tua dan dengan usahaku sendiri aku menemukan beberapa fakta baru dan penting tentang ketidaksadaran dalam kehidupan psikis, peran dari dorongan instingtual dan seterusnya.”
“Di luar temuan ini tumbuh sebuah ilmu baru, psiko-analisis, sebuah bagian dari psikologi dan sebua metode perlakuan atas penyakit mental.”
“Aku harus membayar mahal atas sedikit keberuntungan baik ini. Orang-orang tak mempercayai fakta-faktaku dan berpikir bahwa teori-teoriku tak dapat diterima. Perlawanan sangat kuat dan tak melunak. Pa- da akhirnya aku berhasil dalam mendapat pengikut dan membangun sebuah Asosiasi Psiko- Analitik internasional.” “Tapi, perjuangan belumlah selesai.” Psikoanalisa memang belum selesai. Seperti ketika dia menulis buku dan membabarkan teori- teorinya, buku yang lebih baru terus memperbaiki dan memperbaharui teori dalam buku sebelumnya. Berkat perjuangannya untuk memperkenalkan psikoanalisa dia mendapat pengakuan dan penghormatan dari berbagai pihak di zamannya. Dia seringkali dinobatkan sebagai tokoh besar yang lahir untuk zamannya, seorang raksasa dalam sejarah ilmu pengetahuan—berdampingan dengan raksasa lain seperti Darwin dan Einstein. Pemujanya banyak. Penerusnya, entah sekadar mempraktikkan psikoanalisa atau mengembangkannya di ranah-ranah lain, terus bermunculan. Psikoanalisa telah menjadi profesi. Di Amerika Serikat saat ini, tulis Paul Robinson pada 1993, ada sekitar empat ribu psikoanalis yang buka praktik yang, tentu saja, memandang Freud sebagai pembangun otoritas intelektual mereka dan praktisi yang pertama dan terbesar dari seni terapi mereka. Namun, Paul Robinson dalam buku Freud and his Critics itu juga menunjukkan bagaimana serangan keras terhadap psikoanalisa, profesi psikoanalisa dan Freud terus berdatangan seakan tak kenal henti. Bahkan menjadi skandal. Robinson mencatat bahwa sejumlah tuduhan muncul di suratkabar, seperti “Bukankah dia (Freud) seorang kecanduan kokain?” atau “Tidakkah dia berdusta tentang pasien-pasiennya yang mengalami pelecehan seksual?”. Reputasi Feud menikmati masa keemasannya, menurut Robinson, di era 1950-an dan 1960- an. Masa itu tiga jilid biografi Freud yang ditulis Ernest Jones terbit, antara 1953 dan 1957, dan komunitas intelektual Amerika tampaknya mencapai konsensus bahwa Freud tak hanya pemikir terpenting abad ke-20 tapi satu dari raksasa dalam sejarah pemikiran. Tahun 1952 namanya menjadi pengarang dalam jilid terakhir Great Books of the Western World yang disusun Robert Maynard Hutchins, menempatkannya setara dengan para tokoh besar lainnya. Dalam Freud and the Crisis of Our Culture (1955), tulis Robinson, Lionel Trilling mengumumkan dia sebagai penggerak utama modernisme. Freud: The Mind of the Moralist karya Philip Rieff pada 1961 mencatatnya sebagai intelijen moral besar abad ini dan pencipta sebenarnya dari konsep diri modern. Tapi, angin berubah arah. Frederick Crews, tulis Robinson, dalam sebuah artikel di jurnal Commentary edisi Juli 1980 memprediksi, “Psikoanalisa akan raib seperti mesmerisme dan phrenologi…” Mesmerisme adalah terapi dengan hipnotis, sedangkan phrenologi adalah studi bentuk dan ukuran otak yang diduga mengindikasikan ciri dan kemampuan mental manusia. Serangan keras terhadap pribadi Freud itu bukan sekadar mengisi kolom gosip koran kuning, tapi lahir dalam sejumlah buku karya sejumlah sarjana. “Peter Swales, misalnya,” tulis Robinson, “mengklaim bahwa Freud berselingkuh dengan iparnya, Minna Bernays, dan merancang pembunuhan Wilhelm Fliess, sedangkan E. M. Thornton menulis sebuah buku yang bermaksud menunjukkan bahwa gagasan-gagasan Freud adalah ‘hasil langsung’ dari penggunaan kokainnya.” Genderang perang melawan Freud makin membahana di era 1970-an ketika para feminis baru berbondong-bondong mengritiknya. Di era itu muncul berbagai buku yang ditulis Kate Millett, Germaine Greer, Shulamith Firestone, dan Eva Figes secara sendiri-sendiri. Pokok pangkalnya adalah teori Freud soal kecemburuan penis. Dia menyatakan, psikologi perempuan didasarkan pada perasaan ketidaklengkapan genital, yang menurunkan kecenderungan ke arah pasivitas, narsisme, dan masokisme. Hal ini sudah dilontarkan jauh hari sebelumnya oleh Simone de Beauvoir dalam The Second Sex (1949). Psikoanalisis sebagai sebuah metode ilmiah juga mendapat serangan tajam, misalkan dari Karl Popper. Popper, dengan metode falsifikasinya, mengritik psikoanalisa Freud (dan psikologi Adler) sebagai ilmu-semu (pseudoscience), karena, “Teori itu cocok untuk segala hal yang dapat terjadi,” tulisnya dalam The Philosophy of Karl Popper (1974). Kritik Popper berdasarkan prinsip falsifikasi: ilmu-semu mungkin mendasarkan gagasannya pada observasi, tapi, tak seperti ilmu sebenarnya, ia mengembangkan proposisiproposisi yang tak terbuka bagi kemungkinan dibuktikan keliru. Terlepas dari kritik-kritik pedas itu, belakangan psikoanalisa Freud justru kembali berjaya, bukan di ranah psikologi, tapi di ranah hermenetika dan sastra. Yang pertama dikembangkan oleh Jürgen Habermas dan Paul Ricoeur, sedangkan yang kedua, terutama, oleh Jacques Lacan, pengikut Freud dari Prancis yang menyerukan gerakan “kembali ke Freud”. Dengan segala warna-warni perkembangan ini, warisan psikoanalisa Sigmund Freud tampaknya masih terus bertahan. Dan, kini para pengikutnya di seluruh dunia merayakan 150 tahun kelahirannya. Puisi karangan W. H. Auden yang ditulis untuk peringatan wafatnya Freud pada September 1939 dan saya kutipkan di awal tulisan ini tampaknya relevan menunjukkan posisi Freud di masa kini. (Kurniawan, ruangbaca.com)