Update Yuk

Posted in Tak Berkategori on 13 September 2010 by arichrista

Sampai lupa kalo punya blog yang judulnya sens sual. Dasar pemalas. Emang selama ini ditinggal kemana? Nggak kemana-mana sih. Lagi males aja. Tapi males kok setahun lamanya? Itu mah penyakit menahun namanya.

Jadi ceritanya sekarang ini nyoba update. Nggak tau mau ngebahas apa. Ga ada juntrung. Yang penting kan update. Hah… dasar pemalas.

Pulsa Sensasi Baru

Posted in Tak Berkategori on 27 Oktober 2009 by arichrista

Pulsa sensasi baru. Ada-ada saja. Tapi ini memang bisnis pulsa yang nggak aneh-aneh. Daftarnya gratis. Abis gitu nggak mengharuskan pake modal sepeserpun bisa mendapatkan passive income. Keren bukan? Mau tau seperti apa bisnis pulsa sensasi baru ini? Kayaknya nggak banyak berguna deh ngecap berbuih-buih di sini. Langsung aja menuju lokasi bisnis pulsa murah, halal, dan antirugi. Dimana tuh? Sini Bos, pulsareloader.com.

Karl Marx, Bapak Komunisme

Posted in Filsafat dengan kaitan (tags) , , on 24 Agustus 2009 by arichrista

Karl Marx, pelopor utama gagasan “sosialisme ilmiah” dilahirkan tahun 1818 di kota Trier, Jerman, Ayahnya ahli hukum dan di umur tujuh belas tahun Karl masuk Universitas Bonn,juga belajar hukum. Belakangan dia pindah ke Universitas Berlin dan kemudian dapat gelar Doktor dalam ilmu filsafat dari Universitas Jena. Entah karena lebih tertarik, Marx menceburkan diri ke dunia jurnalistik dan sebentar menjadi redaktur Rheinische Zeitung di Cologne. Tapi, pandangan politiknya yang radikal menyeretnya ke dalam rupa-rupa kesulitan dan memaksanya pindah ke Paris. Di situlah dia mula pertama bertemu dengan Friederich Engels. Tali persahabatan dan persamaan pandangan politik mengikat kedua orang ini selaku dwi tunggal hingga akhir hayatnya.
Marx

Marx tak bisa lama tinggal di Paris dan segera ditendang dari sana dan mesti menjinjing koper pindah ke Brussel. Di kota inilah, tahun 1847 dia pertama kali menerbitkan buah pikirannya yang penting dan besar The poverty of philosophy (Kemiskinan filsafat). Tahun berikutnya bersama bergandeng tangan dengan Friederich Engels mereka menerbitkan Communist Manifesto, buku yang akhirnya menjadi bacaan dunia. Pada tahun itu juga Marx kembali ke Cologne untuk kemudian diusir lagi dari sana hanya selang beberapa bulan. Sehabis terusir sana terusir sini, akhirnya Marx menyeberang Selat Canal dan menetap di London hingga akhir hayatnya.

Meskipun ada hanya sedikit uang di koceknya berkat pekerjaan jurnalistik, Marx menghabiskan sejumlah besar waktunya di London melakukan penyelidikan dan menulis buku-buku tentang politik dan ekonomi. (Di tahun-tahun itu Marx dan familinya dapat bantuan ongkos hidup dari Friederich Engels kawan karibnya). Jilid pertama Das Kapital, karya ilmiah Marx terpenting terbit di tahun 1867. Tatkala Marx meninggal di tahun 1883, kedua jilid sambungannya belum sepenuhnya rampung. Kedua jilid sambungannya itu disusun dan diterbitkan oIeh Engels berpegang pada catatan-catatan dan naskah yang ditinggalkan Marx.

Karya tulisan Marx merumuskan dasar teoritis Komunisme. Ditilik dari perkembangan luarbiasa gerakan ini di abad ke-20, sangat layaklah kalau dia mendapat tempat dalam urutan tinggi buku ini. Masalahnya, seberapa tinggi? Faktor utama bagi keputusan ini adalah perhitungan arti penting Komunis jangka panjang dalam sejarah. Sejak tumbuhnya Komunisme sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah masa kini, terasa sedikit sulit menentukan dengan cermat perspektif masa depannya. Kendati tak seorang pun sanggup memastikan seberapa jauh Komunisme bisa berkembang dan berapa lama ideologi ini bisa bertahan, yang sudah pasti dia merupakan ideologi kuat dan tangguh serta berakar kuat menghunjam ke bumi, dan sudah bisa dipastikan punya pengaruh besar di dunia untuk paling sedikit beberapa abad mendatang.

Pada saat kini, sekitar seabad sesudah kematian Marx, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme sudah mendekati angka 1,3 milyar banyaknya. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia. Bukan sekedar jumlahnya yang mutlak, melainkan juga sebagai kelompok dari keseluruhan penduduk dunia. Ini mengakibatkan kaum Komunis, dan juga sebagian yang bukan Komunis, percaya bahwa di masa depan tidak bisa tidak Marxisme akan merebut kemenangan di seluruh dunia. Namun, adalah sukar untuk memantapkan kebenarannya dengan keyakinan yang tak bergoyah. Telah banyak contoh-contoh ideologi yang tampaknya sangat punya pengaruh penting pada jamannya tapi pada akhirnya melayu dan sirna. (Agama yang didirikan oleh Mani bisa dijadikan misal yang menarik). Jika kita surut ke tahun 1900, akan tampak jelas bahwa demokrasi konstitusional merupakan arus yang akan jadi anutan masa depan. Berpegang pada harapan, tampaknya memang begitu, tapi sekarang tak ada lagi orang yang yakin segalanya sudah terjadi sebagaimana bayangan semula.

Sekarang menyangkut Komunisme. Taruhlah seseorang percaya sangat dan tahu persis betapa hebatnya pengaruh Komunis di dunia saat ini dan di dunia masa depan, orang toh masih mempertanyakan arti penting Karl Marx di dalam gerakan Komunis. Politik pemerintah Uni Soviet sekarang kelihatannya tidak terawasi oleh karya-karya Marx yang menulis dasar-dasar pikiran seperti dialektika gaya Hegel dan tentang teori “nilai lebih.” Teori-teori itu kelihatan kecil pengaruhnya dalam praktek perputaran roda politik pemerintah Uni Soviet, baik politik dalam maupun luar negerinya.

Komunisme masa kini menitikberatkan empat ide: (1) Sekelumit kecil orang kaya hidup dalam kemewahan yang berlimpah, sedangkan kaum pekerja yang teramat banyak jumlahnya hidup bergelimang papa sengsara. (2) Cara untuk merombak ketidakadilan ini adalah dengan jalan melaksanakan sistem sosialis, yaitu sistem di mana alat produksi dikuasai negara dan bukannya oleh pribadi swasta. (3) Pada umumnya, satu-satunya jalan paling praktis untuk melaksanakan sistem sosialis ini adalah lewat revolusi kekerasan. (4) Untuk menjaga kelanggengan sistem sosialis harus diatur oleh kediktatoran partai Komunis dalam jangka waktu yang memadai.

Tiga dari ide pertama sudah dicetuskan dengan jelas sebelum Marx. Sedangkan ide keempat berasal dari gagasan Marx mengenai “diktatur proletariat.” Sementara itu, lamanya masa berlaku kediktatoran Soviet sekarang lebih merupakan hasil dari langkah-langkah Lenin dan Stalin daripada gagasan tulisan Marx. Hal ini tampaknya menimbulkan anggapan bahwa pengaruh Marx dalam Komunisme lebih kecil dari kenyataan yang sebenarnya, dan penghargaan orang terhadap tulisan-tulisannya lebih menyerupai sekedar etalasi untuk membenarkan sifat “keilmiahan” daripada ide dan politik yang sudah terlaksana dan diterima.

Sementara boleh jadi ada benarnya juga anggapan itu, namun tampaknya kelewat berlebihan. Lenin misalnya, tidak sekedar menganggap dirinya mengikuti ajaran-ajaran Marx, tapi dia betul-betul membacanya, menghayatinya, dan menerimanya. Dia yakin betul jalan yang dilimpahkannya persis di atas rel yang dibentangkan Marx. Begitu juga terjadi pada diri Mao Tse Tung dan pemuka-pemuka Komunis lain. Memang benar, ide-ide Marx mungkin sudah disalah-artikan dan ditafsirkan lain, tapi hal semacam ini juga berlaku pada ajaran Yesus atau Buddha atau Islam. Andaikata semua politik dasar pemerintah Tiongkok maupun Uni Soviet bertolak langsung dari hasil karya tulisan Marx, dia akan peroleh tingkat urutan lebih tinggi dalam daftar buku ini.

Mungkin bisa diperdebatkan bahwa Lenin, politikus praktis yang sesungguhnya mendirikan negara Komunis, memegang saham besar dalam hal membangun Komunisme sebagai suatu ideologi yang begitu besar pengaruhnya di dunia. Pendapat ini masuk akal. Lenin benar-benar seorang tokoh penting. Tapi, menurut hemat saya, tulisan-tulisan Marx yang begitu hebat pengaruhnya terhadap jalan pikiran bukan saja Lenin tapi juga pemuka-pemuka Komunis lain, jelas punya kedudukan lebih penting.

Juga ada peluang untuk diperdebatkan apakah penghargaan atas terumusnya Marxisme tidak harus dibagi antara Karl Marx dan Friederich Engels. Mereka berdua menulis “Manifesto Komunis” dan Engels jelas punya pengaruh mendalam terhadap penyelesaian final Das Kapital. Meskipun masing-masing menulis buku atas namanya sendiri-sendiri tapi kerjasama intelektual mereka begitu intimnya sehingga hasil keseluruhan dapat dianggap sebagai suatu karya bersama. Memang, Marx dan Engels diperlakukan sebagai satu kesatuan dalam buku ini walaupun yang dicantumkan cuma nama Marx karena (saya pikir saya benar) dia dianggap partner yang dominan dalam arti luas.

Akhirnya, sering dituding orang bahwa teori Marxis di bidang ekonomi sangatlah buruk dan banyak keliru. Tentu saja, banyak dugaan-dugaan tertentu Marx terbukti meleset. Misalnya, Marx meramalkan bahwa dalam negeri-negeri kapitalis kaum buruh akan semakin melarat dalam perjalanan sang waktu. Jelas, ramalan ini tidak terbukti. Marx juga memperhitungkan bahwa kaum menengah akan disapu dan sebagian besar orang-orangnya akan masuk ke dalam golongan proletar dan hanya sedikit yang bisa bangkit dan masuk dalam kelas kapitalis. Ini pun jelas tak pernah terbukti. Marx juga tampaknya percaya, meningkatnya mekanisasi akan mengurangi keuntungan kaum kapitalis, kepercayaan yang bukan saja salah tapi sekaligus juga tampak tolol. Tapi, terlepas apakah teori ekonominya benar atau salah, semua itu tidak ada sangkut-pautnya dengan pengaruh Marx. Arti penting seorang filosof terletak bukan pada kebenaran pendapatnya tapi terletak pada masalah apakah buah pikirannya telah menggerakkan orang untuk bertindak atau tidak. Diukur dari sudut ini, tak perlu diragukan lagi Karl Marx punya arti penting yang luarbiasa hebatnya. (isnet.org)

Sigmund Freud, Sang Pendiri Psikoanalisis

Posted in Psikologi dengan kaitan (tags) , , on 24 Agustus 2009 by arichrista

Bagi kita dia tak lebih dari seseorang Kini kecuali muara seluruh pendapat. (W. H. Auden, penyair)
Freud
Dia atheis. Dia ajari manusia sebuah cara untuk membongkar isi lorong-lorong terdalam benak manusia. Barangkali, karena itu dia menakutkan. Dia Yahudi. Nazi membakar semua buku-buku karyanya. Sebuah cetakan dari karya pahat Kruger, Musa Melempar Naskah Sepuluh Perintah Tuhan ke Tanah, tahun 1770 yang berdasarkan lukisan Rembrandt, tergantung di aula rumahnya di Maresfield Gardens, London.

Di rumah itu dia menekuni alkitab dan patung-patung Musa untuk menulis tentang asalusul agama Yahudi. Hasilnya sebuah buku bertajuk Musa dan Monotheisme yang diterbitkan setahun menjelang ia wafat.
Di situ dia mengajukan hipotesa yang mengejutkan. Nabi Musa, simpulnya, bukanlah seorang Yahudi tapi seorang aristokrat Mesir dan konsep radikalnya tentang “peristiwa nyata” dan “kembalinya penindasan” membuat marah kaum Yahudi dan Nasrani.

Kaum Yahudi menuduhnya anti-Yahudi. Kita tak tahu apakah tuduhan ini sungguhsunggu benar. Tapi, dia sendiri menilai buku itu “sejenis novel sejarah”. Penggaliannya akan asal-usul Yahudi boleh jadi karena pencarian jati dirinya. Namun, keyahudiannya berbeda.

Ketika kaum Yahudi meminta dia mendukung Zionis setelah kerusuhan Arab pecah pada 1929, dia menulis penolakan yang santun. “Akan tampak lebih bijak bagiku untuk membangun sebuah tanah air Yahudi di atas tanah yang secara historis kurang terbebani,” tulisnya.

Tapi, dia sadar dia melawan sebuah gairah akbar pendirian sebuah negara Israel yang, tentu saja, tak bisa dia lawan. “Tapi, aku tahu bahwa sudut pandang rasional semacam itu tak akan pernah mendapat antusiasme dari massa dan dukungan keuangan.” Pada akhirnya, dia menegaskan posisi politiknya. “Aku tak dapat bersimpati sama sekali terhadap semua kasalehan salah arah yang mengubah sekeping dinding Herod menjadi jimat keramat nasional, hingga menyakiti perasaan penduduk pribuminya.”

Itu sekeping potongan dari mozaik besar kehidupan Sigmund Freud. Tak mudah menyimpulkan macam apa sosok Freud itu. Boleh dibilang, dia sendiri, sepanjang hidupnya berjuang untuk memahami dirinya. Bahkan dia melakukan studi atas otobiografinya sendiri.

Sigmund Freud lahir di Frieberg, Moravia (sekarang Republik Chek) pada 1856. Ketika dia berusia empat tahun keluarganya pindah ke Wina, tempat Freud tumbuh dan menghabiskan sebagian masa hidupnya. Pada 1937 Nazi Jerman mencaplok Austria dan psikolog Yahudi itu terpaksa meninggalkan Kota Wina dan mengungsi ke Inggris, tempat dia wafat karena kanker pada 1939.

Beberapa bulan menjelang wafatnya. Cambang putihnya masih bertengger di dagu tuanya. Dengan sebuah kaca mata berantai dia membacakan sebuah naskah yang meringkas karya hidupnya untuk radio BBC Inggris. Rekaman dilakukan di rumahnya di Maresfield Gardens pada 7 Desember 1938.

Saya akan menuliskan pernyataannya itu secara lengkap di sini, membiarkan sang tokoh psikoanalisa itu meringkaskan kerjanya sendiri.

“Aku mulai aktivitas profesionalku sebagai seorang neurolog, ahli syaraf, mencoba meringankan pasien-pasien syarafku. Di bawah pengaruh sahabatku yang lebih tua dan dengan usahaku sendiri aku menemukan beberapa fakta baru dan penting tentang ketidaksadaran dalam kehidupan psikis, peran dari dorongan instingtual dan seterusnya.”

“Di luar temuan ini tumbuh sebuah ilmu baru, psiko-analisis, sebuah bagian dari psikologi dan sebua metode perlakuan atas penyakit mental.”

“Aku harus membayar mahal atas sedikit keberuntungan baik ini. Orang-orang tak mempercayai fakta-faktaku dan berpikir bahwa teori-teoriku tak dapat diterima. Perlawanan sangat kuat dan tak melunak. Pa- da akhirnya aku berhasil dalam mendapat pengikut dan membangun sebuah Asosiasi Psiko- Analitik internasional.” “Tapi, perjuangan belumlah selesai.” Psikoanalisa memang belum selesai. Seperti ketika dia menulis buku dan membabarkan teori- teorinya, buku yang lebih baru terus memperbaiki dan memperbaharui teori dalam buku sebelumnya. Berkat perjuangannya untuk memperkenalkan psikoanalisa dia mendapat pengakuan dan penghormatan dari berbagai pihak di zamannya. Dia seringkali dinobatkan sebagai tokoh besar yang lahir untuk zamannya, seorang raksasa dalam sejarah ilmu pengetahuan—berdampingan dengan raksasa lain seperti Darwin dan Einstein. Pemujanya banyak. Penerusnya, entah sekadar mempraktikkan psikoanalisa atau mengembangkannya di ranah-ranah lain, terus bermunculan. Psikoanalisa telah menjadi profesi. Di Amerika Serikat saat ini, tulis Paul Robinson pada 1993, ada sekitar empat ribu psikoanalis yang buka praktik yang, tentu saja, memandang Freud sebagai pembangun otoritas intelektual mereka dan praktisi yang pertama dan terbesar dari seni terapi mereka. Namun, Paul Robinson dalam buku Freud and his Critics itu juga menunjukkan bagaimana serangan keras terhadap psikoanalisa, profesi psikoanalisa dan Freud terus berdatangan seakan tak kenal henti. Bahkan menjadi skandal. Robinson mencatat bahwa sejumlah tuduhan muncul di suratkabar, seperti “Bukankah dia (Freud) seorang kecanduan kokain?” atau “Tidakkah dia berdusta tentang pasien-pasiennya yang mengalami pelecehan seksual?”. Reputasi Feud menikmati masa keemasannya, menurut Robinson, di era 1950-an dan 1960- an. Masa itu tiga jilid biografi Freud yang ditulis Ernest Jones terbit, antara 1953 dan 1957, dan komunitas intelektual Amerika tampaknya mencapai konsensus bahwa Freud tak hanya pemikir terpenting abad ke-20 tapi satu dari raksasa dalam sejarah pemikiran. Tahun 1952 namanya menjadi pengarang dalam jilid terakhir Great Books of the Western World yang disusun Robert Maynard Hutchins, menempatkannya setara dengan para tokoh besar lainnya. Dalam Freud and the Crisis of Our Culture (1955), tulis Robinson, Lionel Trilling mengumumkan dia sebagai penggerak utama modernisme. Freud: The Mind of the Moralist karya Philip Rieff pada 1961 mencatatnya sebagai intelijen moral besar abad ini dan pencipta sebenarnya dari konsep diri modern. Tapi, angin berubah arah. Frederick Crews, tulis Robinson, dalam sebuah artikel di jurnal Commentary edisi Juli 1980 memprediksi, “Psikoanalisa akan raib seperti mesmerisme dan phrenologi…” Mesmerisme adalah terapi dengan hipnotis, sedangkan phrenologi adalah studi bentuk dan ukuran otak yang diduga mengindikasikan ciri dan kemampuan mental manusia. Serangan keras terhadap pribadi Freud itu bukan sekadar mengisi kolom gosip koran kuning, tapi lahir dalam sejumlah buku karya sejumlah sarjana. “Peter Swales, misalnya,” tulis Robinson, “mengklaim bahwa Freud berselingkuh dengan iparnya, Minna Bernays, dan merancang pembunuhan Wilhelm Fliess, sedangkan E. M. Thornton menulis sebuah buku yang bermaksud menunjukkan bahwa gagasan-gagasan Freud adalah ‘hasil langsung’ dari penggunaan kokainnya.” Genderang perang melawan Freud makin membahana di era 1970-an ketika para feminis baru berbondong-bondong mengritiknya. Di era itu muncul berbagai buku yang ditulis Kate Millett, Germaine Greer, Shulamith Firestone, dan Eva Figes secara sendiri-sendiri. Pokok pangkalnya adalah teori Freud soal kecemburuan penis. Dia menyatakan, psikologi perempuan didasarkan pada perasaan ketidaklengkapan genital, yang menurunkan kecenderungan ke arah pasivitas, narsisme, dan masokisme. Hal ini sudah dilontarkan jauh hari sebelumnya oleh Simone de Beauvoir dalam The Second Sex (1949). Psikoanalisis sebagai sebuah metode ilmiah juga mendapat serangan tajam, misalkan dari Karl Popper. Popper, dengan metode falsifikasinya, mengritik psikoanalisa Freud (dan psikologi Adler) sebagai ilmu-semu (pseudoscience), karena, “Teori itu cocok untuk segala hal yang dapat terjadi,” tulisnya dalam The Philosophy of Karl Popper (1974). Kritik Popper berdasarkan prinsip falsifikasi: ilmu-semu mungkin mendasarkan gagasannya pada observasi, tapi, tak seperti ilmu sebenarnya, ia mengembangkan proposisiproposisi yang tak terbuka bagi kemungkinan dibuktikan keliru. Terlepas dari kritik-kritik pedas itu, belakangan psikoanalisa Freud justru kembali berjaya, bukan di ranah psikologi, tapi di ranah hermenetika dan sastra. Yang pertama dikembangkan oleh Jürgen Habermas dan Paul Ricoeur, sedangkan yang kedua, terutama, oleh Jacques Lacan, pengikut Freud dari Prancis yang menyerukan gerakan “kembali ke Freud”. Dengan segala warna-warni perkembangan ini, warisan psikoanalisa Sigmund Freud tampaknya masih terus bertahan. Dan, kini para pengikutnya di seluruh dunia merayakan 150 tahun kelahirannya. Puisi karangan W. H. Auden yang ditulis untuk peringatan wafatnya Freud pada September 1939 dan saya kutipkan di awal tulisan ini tampaknya relevan menunjukkan posisi Freud di masa kini. (Kurniawan, ruangbaca.com)

Stop dreaming start action yang terbengkalai

Posted in stop dreaming start action dengan kaitan (tags) on 13 Agustus 2009 by arichrista

Banyak kesulitan dalam optimasi stop draming start action yang dialami teman saya. Selain pekerjaan offline yang menumpuk, koneksi lemot menjadi kendala utama. Setelah saya pantau melalui google.co.id dengan kata kunci stop dreaming start action, blog teman saya itu bukan bertambah naik dari posisi sebelumnya, tetapi malah melorot terus. Blognya pun tampak terbengkalai seperti tidak terurus.

Ketika saya tanya mengapa tampaknya ia tidak pernah lagi melakukan optimasi, dia bilang gara-gara koneksi lemot. Koneksi lemot menjadi kendala utamanya. Sekarang saya baru tahu mengapa kok stop dreaming start action-nya terbengkalai. Sungguh mengenaskan. Padaha ia minta dukungan saya untuk optimasi mendukung blognya, malah dia sendiri menelantarkan stop dreaming start action-nya. Kasiahan dia.

Kesulitan dalam Stop Dreaming Start Action

Posted in stop dreaming start action dengan kaitan (tags) on 11 Agustus 2009 by arichrista

Stop dreaming start action adalah sebuah kesulitan yang menantang. Kenapa menantang? Ya karena stop dreaming start action menjanjikan hadiah yang sangat besar bagi pemenangnya. 12 juta rupiah untuk pemenang pertama. 6 juta rupiah untuk pemenang kedua. 3 juta rupiah untuk pemenang ketiga. Sampai pemenang ketujuh stop dreaming start action menjanjikan hadiah total sebesar 25 juta rupiah. Ini merupakan ajang adu kesaktian ilmu seo paling bergengsi yang pernah ada selama ini. Stop dreaming start action menjadi luar bisa sulitnya karena dipenuhi oleh para jawara dan pendekar seo tanah air.

Seorang pemula berani terjun dalam arena stop dreaming start action ini memerlukan nyali yang tidak sedikit. Rata-rata mereka mengaku tidak berharap banyak untuk menggondol salah satu hadiah dari stop dreaming start action ini. Tetapi mereka hanya ingin menguji sejauh mana kemampuan dan taraf ilmu seonya karena di ajang stop dreaming start action ini hampir seluruh pendekar seo unjuk kemampuan. Benar-benar tingkat kesulitan yang tinggi tentunya stop draming start action itu.

Masih Mampukah Untuk Stop Dreaming Start Action

Posted in stop dreaming start action dengan kaitan (tags) on 11 Agustus 2009 by arichrista

Stop dreaming start action‘ adalah sebuah batu besar yang jatuh ke bumi dari sebuah planet yang meledak. Stop dreaming start action berhasil menembus atmosfir dan menimbulkan dentuman yang menggema ke seluruh jagad ketika jatuh menimpa bumi. Seluruh dunia digemparkan oleh stop dreaming start action. Maka, ada sebuah sayembara, barang siapa berhasil mengembalikan stop dreaming start action ke luar angkasa, maka ia akan mendapat hadiah 12 juta rupiah.

Mendengar sayembara yang begitu prestisius, para pendekar seo berebut dan beradu kesaktian untuk mengangkat stop dreaming start action. Ada yang menggunakan jurus seribu bayangan sehingga sekali kebas stop dreaming start action langsung melayang ke angkasa. Tetapi tidak lama kemudian terhembas lagi. Pendekas yang lain datang dengan jurus tapak seribu. Kembali stop dreaming start action berhasil diterbangkannya. Tetapi sama, beberapa saat kemudian terjatuh lagi. Begitu terus pedekar demi pendekar, jawara demi jawara telah telah turun tangan. Ada juga peserta yang bukan jawara, juka bukan pendekar. Mampukah ia menerbangkan stop dreaming start action? Ini sepertinya justru akan terjadi sebaliknya. Stop dreaming start action berubah bentuk menjadi stop action start dreaming… wah… jadi berabe neh…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.